Info Lowongan Kerja

Informasi pekerjaan karir tips mencari kerja

20 Universitas terbaik di Indonesia

Bung Vian Adzhar Yth.

Dari beberapa informasi yang saya dapat dari mereka yang pernah
mengenyam pendidikan tinggi di negara2 maju, umumnya sepakat
mengatakan bahwa pendidikan tinggi di Indonesia relatif sulit
dibandingkan pendidikan tingi di sana, karena terbatasnya sarana dan
prasarana yang bisa dipergunakan oleh mahasiswa. Tentu disini kita
harus bedakan dulu, lulusan dari universitas di Indonesia yang
fakultas2 nya terakreditasi dengan baik atau tidak. Kalau lulusan
universitas negeri dan beberapa universitas swasta terkemuka, saya
kira kemampuan mereka tidak akan kalah dengan lulusan universitas di
negara2 maju.

Dulu saya pernah punya teman kuliah lulusan dari Colorado University
di Amerika, yang telah memperoleh gelar MA dalam bidang Economics
Science. Colorado University termasuk Top 100 Universitas di Amerika.
Tapi dia kepusingan mengikuti study lanjut di salah satu Universitas
Negeri di Indonesia, dan akhirnya tidak tahan, DO. Ketika saya tanya
kenapa, dia bilang tidak mengerti sama sekali. Aneh bukan? Akhirnya
dia menjelaskan, bahwa semua graduate student di Colorado Uni diberi
seorang tutor, yaitu post graduate student dalam bidang yang sama.
Karena dia orang asing, maka untuk dia diberikan 2 orang tutor.

Dalam pembuatan tugas selama perkuliahan, dia selalu dibantu oleh
kedua orang tutor tsb, sehingga selalu mendapat nilai A. Waktu ujian
mata kuliah, setelah gagal 2 kali, dia diberi kesempatan oleh dosen
yang bersangkutan untuk membuat tugas / makalah sebagai pengganti
ujian yang ketiga. Tugas ini tentu saja dibantu oleh kedua tutornya
dan mendapat nilai A. Begitu seterusnya sampai ybs berhasil membuat
Thesis atas bantuan kedua tutor tsb. Pada waktu sidang akhir, dosen
penguji “maklum” kalau teman saya tsb jawabannya tidak nyambung
karena kesulitan bahasa dan diluluskan.

Sedangkan untuk program S2 di Indonesia, hal-hal seperti itu tidak
ada. Jangankan tutorial, text book saja harus cari kesana-kemari
dengan susah payah mengandalkan teman2 untuk di foto copy diam2,
kaena untuk membeli yang asli sangat mahal. Belum lagi sulitnya
bertemu dengan dosen pembimbing, karena kerjanya di beberapa tempat.
Jadi graduate student dan post graduate student di Indonesia selain
harus pandai, juga harus tahan banting mengejar-ngejar dosen siang
dan malam kalau mau cepat selesai.

Jadi jangan heran kalau ada teman sekantor anda yang lulusan S2 di
luar negeri, yang tidak mengerti apa2. Konon menurut teman yang
berkecimpung di bidang pendidikan, pendidikan S2 relatif lebih mudah
daripada pendidikan S1, sedangkan pendidikan S1 relatif lebih mudah
daripada pendidikan S3. Menurut sahibul hikayat, dari 1.000 mahasiswa
S1 di Indonesia hanya 2 orang saja yang berhasil mencapai gelar
Doctor (S3).

Data di atas tentu tidak termasuk universitas gurem yang hanya dagang
ijazah, baik yang instant maupun yang pura2 kuliah teratur. Mutu
pendidikan tinggi di Indonesia yang sering dianggap rendah oleh
berbagai pihak adalah akibat dari ulah para pedagang ijazah tsb, dan
ironinya Depdiknas membiarkan saja mereka berkembang di mana-mana.

betul pak….
> saya pernah ambil course dari salah satu institusi asing (dan
sekarang lagi
> berencana ambil course di harvard).
> dan menurut saya…..ga jauh beda tuh…sama aja……semua
tergantung
> kitanya…kalo orangnya males ….walau kuliah di luar pun yah sama
juga
> boong.. buang duit doank…..
>
> saat ini pun lingkungan kerja saya lingkungan multinational dengan
banyak
> orang di dalamnya. bahkan orang di ruang sebelah saya tuh orang
bule….dan
> menurut ku sih…..kualitas lulusan mereka biasa aja….bahkan dulu
th
> 2001….pernah sekantor sama alumnus S1 dan lanjut S2 di
> jepang…walah…..tuh orang lulusan sana tapi dodol……
>
> kalo dibanding sama lulusan kita mis UK petra aja jauh
tuh……tapi ya
> mungkin karena waktu itu dia masih fresh graduate kali yah…..
>
> anyway…..saya tetap optimis kok pak dengan kualitas pendidikan di
dalam
> negeri…bagi saya semua tergantung orangnya……karena bagi
saya …kuliah
> tuh yang di kejar ilmunya…dan ilmu itu adalah barang bebas yang
bisa
> didapat dari mana aja…….oleh karena itu UGM mendorong kami
untuk tidak
> tergantung pada dosen…..tapi harus gali sumber informasi dan
pengetahuan
> dari semua sumber yang ada di dunia ini….tanpa
terkecuali……sekarang
> kan udah jaman maju…..iptek dan info sangat mudah di dapat dan
digunakan
> untuk pengembangan diri.
>
>
>
>
> 2008/2/14 Jimmy Tanaya :
>
> > Mas/Mbak Vian,
> >
> > Ya kurang lebih begitulah yg terjadi. Mungkin karena masyarakat
> > (sebagai pelanggan/pengguna) dibentuk utk menjadi foreign-minded.
> > Semua yg dari luar negeri dianggap pasti lebih baik daripada dari
> > dalam negeri (i.e. indonesia). Malah banyak yg ‘latah’ berusaha
utk
> > menjadi ‘asing’ di dalam negeri sendiri (eg. president/manager
atau
> > kepsek dari LN/expat). Padahal kualitas dalam negeri juga belum
tentu
> > kalah dibandingkan rekan2 di LN.
> >
> > Soal yg lebih spesifik ttg peringkat2an gini. Biasanya alat ukur
> > adalah among others, perspektif perusahaan (employer), indeks
sitasi
> > (citation index), en mahasiswa asing.
> >
> > Perspektif perusahaan tentu tergantung dengan dimana survey
dilakukan,
> > metode sampling, dan kharakteristik samplenya (dan juga penentuan
> > populasi). Saya ragu times atau bahkan jiaotong juga mengambil
sampel
> > di Indonesia (sebagai negara yg berpenduduk besar dan cukup
penting di
> > asteng) selain singapore di asteng. Kalau anda tanya para
profesional
> > di SDM, siapa yg dipilih dari calon lulusan UGM atau jiaotong;
mungkin
> > mereka akan memilih UGM (yg lebih mereka kenal kualitas
lulusannya).
> > Apalagi jika dibandingkan antara lulusan UGM ataupun UPH.
> >
> > Jangankan UGM vs UPH, bahkan bila UPH vs UK Petra-Surabaya
sekalipun;
> > saya duga orang (terutama di jawa timur, ataupun indonesia tengah
en
> > timur) masih condong memilih UKP. Mungkin bukan soal kualitas,
tapi
> > soal brand image dari UKP (yg sudah dibangun cukup lama).
> >
> > Pengakuan salah seorang ‘petinggi’ UPH sendiri mengindikasikan
bahwa
> > mahasiswa/i UPH jurusan tertentu agak malas membaca textbook
berbahasa
> > inggris mereka. Nah, baca textbook aja malas, apalagi mengaduk2
jurnal
> > kan?
> >
> > Faktor CI (cit index), ini kompleks. Dosen/peneliti kita memang
jarang
> > publikasi. Itu masalah yg nyata. Tapi bukan berarti mereka ‘bodoh’
> > ataupun ‘malas’. Faktor bahasa dan waktu mungkin lebih menjadi
alasan.
> > Ya kalau jarang publish, maka tentu mereka akan ‘perish’ didunia
> > akademik internasional kan.
> >
> > Faktor mahasiswa asing, ini juga kompleks. Calon mahasiswa/i
eropah,
> > saya rasa, amat bangga/percaya pada kualitas pendidikan tinggi
mereka.
> > Jadi, meskipun mampu sekolah di LN, mereka toh kebanyakan memilih
> > sekolah domestik mereka. Sementara kita (i.e. indonesia), rasanya
> > terlalu mengabaikan pasar potensial dari regio Asteng (asia
tenggara).
> > Saya ragu universitas2 kita pernah/sering berpromosi di singapore,
> > malaysia, filipina, etc. Coba bandingkan dengan agresifnya NUS/NTU
> > beriklan di Indonesia, atau univ2 lain dari negara lain.
> >
> > PTS mungkin kurang ‘percaya diri’ sementara PTN (dulu) mungkin
terlalu
> > asik dengan diri mereka sendiri (apalagi PTN merasa cukup dana).
Plus
> > kalo tidak salah, ada kebijakan membatasi mahasiswa/i asing di PT
> > indonesia.
> >
> > Tanpa menimbang hal2 beginian, memang mudah bagi orang ‘asing’
(atau
> > yg merasa dirinya ‘asing’) utk komentar ngawur bahwa pendidikan di
> > indonesia kalah berkualitas dibanding di luar negeri. Hanya
karena PT
> > kita nggak masuk THES ataupun jiaotong atau -apalagi- globeasia
hehehehe.
> >
> > Meskipun pernah mencicipi pendidikan di luar, toh, saya masih
> > merasa/percaya bahwa kualitas pendidikan di Indonesia (terutama
> > strata-1) tidak kalah dengan kompetitornya di luar. Kita, mungkin,
> > cuma kalah dalam akses sumber daya (eg. jurnal, buku, dll), sumber
> > modal, dan kebiasaan menulis/publish hehehehehe.
> >
> > Coba kalau ada lomba karya skripsi terbaik di indonesia, saya
yakin
> > nama2 yg ‘besar’ di (iklan) koran/majalah akan kalah dibandingkan
PT
> > lainnya hehehehe. Skeptis mode on qeqeqeqe.
> >
> > salam,
> > jimmy
> >
> > — In tionghoa-net@yahoogroups.com <tionghoa-net%
40yahoogroups.com>,
> > “vian adzhar”
> > wrote:
> >
> > >
> > > bukan karena saya kuilah di UGM maka saya sebut peringkat GLOBE
ASIA itu
> > > aneh….
> > > saya merasakan sendiri….setiap mahasiswa diUGM dicekokin ma
teori
> > , tugas,
> > > dan kajian praktis….yang wualah……sampe muntah….saya
> > inget…PR saya
> > > mata kuliah fundamental of finance management adalah
mengevaluasi
> > kondisi
> > > keuangan maskapai penerbangan QANTAS dibandingkan dengan SIA.
evaluasi
> > > didasarkan pada ANnual report sebenernya dari kedua perusahaan
tersebut.
> > > trus saya harus presentasikan hasil analisisnya dan di
bantai…..selama
> > > presentasi itu saya harus bisa sampaikan dasar dari analisis
dari
> > ebrbagai
> > > sudut pandang.termasuk teoritis (kami pake buku teks book yang
merupakan
> > > standar teksbook di program MBA di eropah karena MM UGM
termasuk dalam
> > > komunitas sekolah bisnis eropa). analisis juga harus consider
berbagai
> > > faktor baik makro dan mikro ekonomi terkait dengan perusahaan
perusahaan
> > > tersebut.
> > >
> > > padahal itu baru PR pertama di mata kuliah “Fundamental” of
finance
> > > management.
> > > walah…..ngerjainnya sampe lembur berhari hari
tuh…….so…we
> > combined
> > > teori dan praktek in real cases……
> > > Semua data dan kasus yang digunakan addalah real cases…..data
> > tersedia di
> > > perpus yang lengkap bgt……international jurnal macam
EBSCO…udah
> > jadi
> > > makanan sehari hari…..(enyaway UPH punya ga tuh …yang
seperti
> > > itu….kalo ngga salah baru UGM doank deh……)
> > >
> > > perkuliahan di kelas kami (UGM) tidak cuman melulu duduk di
bangku
> > dan makan
> > > teori …. sering kali kami nonton film di kelas….seperti
film nya
> > Enron,
> > > barbarian at the Gate, dll. Tapi apesnya…abis film nya kelar
trus tuh
> > > professor langsung tanya soal analisis strategi terkait dengan
kasus
> > > itu……semua in english…..big paper in english, buku
original
> > berbahasa
> > > english, film in english, presentasi in english…..
> > >
> > > setiap tahun juga ada International Summer Class
program……tahun lalu
> > > lecturer nya beberapa dosen dari eropah. di kelas itu….isinya
> > mahasiswa
> > > dari UGM + mahasiswa dari uni eropah….
> > >
> > > saban hari berkeliaran pula tuh mahasiswa bule di kampus…..
> > >
> > > so… bagaimana dengan UPH….? YANG DI ATAS NYA UGM….?
> > >
> > >
> > > Aneh……ah udah deh….males ngomonging ginian….

Agustus 22, 2008 - Posted by | pendidikan

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: